10
Januari 2015
20:15
Here I am. Menghabiskan
malam minggu di rumah sakit. Bukan ide yang bagus, tetapi ini bukan pilihan.
Tipus. Yup! Yang ketiga kalinya dalam 5 tahun! Menolak untuk di rawat inap dari
awal Desember karena infeksi empedu dan seminggu setelahnya karena usus buntu, saya
tidak bisa berkata tidak ketika hasil tes darah mengatakan positif tipus
setelah mencoba menahan rasa sakit yang teramat sangat selama 3 hari di rumah.
Dr. Jo adalah dokter yang berdedikasi tinggi. Dengan jumlah
‘peggemar’ yang banyak dari empat tempat praktek dan sangat bergantung kepada
kepiawaian beliau mengingat jenis penyakit yang beliau tangani, libur untuk
beliau adalah hanya pada saat Perayaan Waisak dan Hari Raya Nyepi. Itupun karena
memang di Bali kita tidak boleh keluar rumah pada saat Hari Raya Nyepi. Menjadi
pasien beliau selama berturut-turut dari November 2013, seminggu sekali jadwal kontrol,
karena gula darah dan selanjutnya setiap hari sabtu semenjak rawat inap di bulan
Februari 2014 sampai sekarang, membuat saya mempunyai keterikatan emosi dengan
beliau. Dan beliau tahu, selama saya masih berdiri dan bisa berjalan, saya akan
tetap mengerjakan rutinitas saya dan beliau tahu tidak mudah untuk ‘menyeret’
saya untuk dirawat inap.
Anyway, untuk ‘mempercepat waktu’ ditengah kebosanan saya di rumah sakit, pilihan saya jatuh ke Arirang, Korean TV channel setelah berpindah-pindah lebih dari 50 pilihan TV yang disediakan oleh TransVision. Bukan karena saya penggemar K-Pop yang lagi booming saat ini, tetapi karena tertarik pada acara talk show menarik yang sedang berlangsung anatara pembawa acara Heart to Heart, Rah Seung-Yun dengan Profesor Lee Kun-Pyo seorang profesor dari Desain Industri di KAIST. KAIST adalah sebuah universitas riset publik, lembaga penelitian yang berorientasi pada ilmu dan rekayasa, terletak di Daedeok Innopolis, Daejeon, Korea Selatan.
Prof. Lee sendiri berasal dari LG Electronics bagian Design Management Center. Beliau
memutuskan untuk menghabiskan beberapa tahun sebelum beliau memasuki usia
pensiunnya untuk kembali ke akademi dan mendedikasikan ilmunya dan mengajar di
universitas. Sekarang, sebagai professor dari disain
industry di KAIST, beliau melatih mahasiswanya untuk membangun
desain interaktif yang inovatif dan user-friendly yang menempatkan manusia
sebagai pusatnya. Saat ini Prof Lee memimpin Lab Desain Interaksi
Manusia yang berpusat di KAIST dan telah menjadi peneliti desain yang diakui
secara internasional.
Prof. Lee terpilih sebagai President dari World Design Association
pada acara World Design Symposium yang
diadakan di Taiwan. Organisasi ini menggabungkan pusat desain di Asia - yang
berfokus pada Korea, Jepang dan Taiwan - dengan pusat penelitian desain di
Eropa. Tujuan organisasi tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan dunia
desain dalam teknologi.
Prof. Lee menyadari bahwa arah dari organisasi/perusahaan
teknologi adalah kesempatan untuk meningkatkan tingkatan desain. Beliau
mengatakan bahwa desain tidak diakui sebagai sesuatu yang memiliki nilai akademik;
"Design is not acknowledged as having
scholastic value".
Pada acara TV tersebut, Prof. Lee menjelaskan tentang
filosofi beliau mengenai desain. Menurut beliau, paradigm desain telah
bergeser. Orang membuat tidak hanya membuat sebuah desain yang ‘ramping’ tetapi
juga desain yang user-friendly dan menawarkan pengalaman-pengalaman baru kepada
penggunanya. Untuk alasan tersebut user
interface dan user experience telah
menjadi bagian integral dari desain modern. Paradigma desain berubah
menjadi berpusat kepada human-centered
interaction.
Rah Seung-Yun bertanya mengenai pendapat Prof. Lee tentang
peran robot saat ini. Dimana ide awal dari robot adalah untuk membantu manusia
dan menjadi bawahan servant, dan
bukan sebagai colleague yang bersifat sederajat dengan manusia, bahkan dianggap
sebagai anggota keluarga. Prof. Lee memiliki satu robot dirumah untuk membantu
pekerjaan rumah istrinya dimana istri beliau memberi nama robot tersebut dan
berbuat seolah-olah robot itu hidup. Hal ini menimbulan pemikiran bahwa saat
ini manusia melibatkan emosi dalam komunikasi dengan robot.
Prof. Lee juga membahas sekilas tentang bagaimana disain dari
mobile application yang diciptakan
menggunakan human interaction dengan
manusia di lab centre-nya; seperti
pembuatan mobile application
berdasarkan arah penglihatan pengguna, dimana pengguna fokus pada sesuatu, hal
tersebut dapat dipergunakan untuk menentukan apa yang diinginkan pengguna,
seperti dalam pemilihan jadwal pesawat, pilihan menu, dan lain sebaginya.
Acara tersebut mengingatkan saya pada skripsi S1 saya ditahun
2012. Yup, mobile application. Saya
merasa saat itu bahwa teknologi mobile
phone demikian maju dengan pesatnya, dimana baik produsen mobile phone berlomba menawarkan
produk-produk smart phone dengan
inovasi terbaru dan penyedia jasa komunikasi berlomba menyediakan paket-paket
internet hemat yang memudahkan pengguna untuk men-download berbagai konten-konten menarik. Dan hal tersebut menjadi
salah satu daya tarik saya untuk juga membuat sebuah mobile application sebagai tugas akhir.
Salah satu perusahaan berskala menengah keatas menjadi
pilihan saya. Perusahaan yang bergerak dibidang pelayanan akomodasi pariwisata,
yang menyediakan berbagai fasilitas untuk kenyamanan para tamunya. Restaurant dengan 5 outlet merupakan salah satu fasilitas yang ada, sebagai penyedia
layanan makanan.
Keterbatasan untuk dapat mengingat semua recipe beserta ingredient
dan method of cooking-nya di seluruh outlet yang ada tersebut merupakan salah
satu tantangan yang dihadapi oleh para chef,
selain sebagai tuntutan untuk dapat multi
skilling dan multi tasking.
Dengan jadwal yang sibuk diantara 3 meal shift; breakfast, lunch dan dinner; jarak antar masing-masing outlet yang berjauhan, dan ke-tidak
tersediaan-nya komputer disetiap kitchen outlet,
mengakibatkan efek buruk pada ke-efektif-an dan efisiensi kerja para chef dalam pekerjaan mereka.
Berawal dari latar belakang permasalahan tersebut,
maka saya merasa perlu mencoba untuk membuat sebuah
aplikasi yang dapat memungkinkan para Chef, untuk dapat menemukan menu-menu dari setiap outlet yang ada beserta ingredient dan method of cooking-nya
dengan cara cepat, mudah dan efisien.
Mobile application
tersebut adalah aplikasi berbasis web
yang dikembangkan menggunakan bahasa web
programming atau script Java, web server-nya menggunakan Apache Tomcat 6
dan MySQL 5 sebagai pengolah database-nya. Untuk desain antarmuka
menggunakan software Eclipse Helios. Puji
Tuhan dengan skripsi “Aplikasi
Mobile Recipes Berbasis Web Menggunakan Framework ZK dengan Design Pattern MVVM
(Model-View-ViewModel)”
saya dinyatakan lulus pada Oktober 2012 setelah berkutat lebih dari 3 bulan.
Kembali
ke topik awal, banyak yang ingin saya tulis mengenai pembicaraan yang menarik
antara Prof. Lee dengan pembawa acara Heart to Heart, Rah Seung-Yun, tapi saya
tidak punya pilihan dan harus memaksakan istirahat apabila tidak ingin dokter
menahan saya di rumah sakit ini lebih lama. Tak terasa jam menunjukkan 10 menit
menuju jam 1 pagi!
No comments:
Post a Comment